Ibadat Sabda Tanpa Imam

Doa dan Ibadat Bersama Umat Katolik Awam

Opini 03 PUASA LAGI

03 Puasa

Menurutmu [anda] bagaimana cara puasa umat Muslim?

JAWABAN PENDEK

Tutup semua kedai, warung, restoran, dsb penjual makanan serta melarang jualan makanan maupun minuman dimana pun pasti puasa jadi mudah.

JAWABAN PANJANG

Saya tidak mampu memahami penutupan tempat maupun penjualan makanan dan minuman apapun alasannya [termasuk bila ada PerDa yang melegalkan cara demikian] karena:

‘SATU’ mereka hanyalah orang yang berusaha memperoleh penghasilan dengan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup terlebih di masa seperti saat ini juga untuk mempersiapkan diri agar mampu berlebaran?

‘DUA’ para pelaku penutupan terlebih penyitaan [bahkan jaman dulu banyak orang atas nama ormas keagamaan membuang atau menginjak-injak] makanan, apa tidak puasa ya? Koq tindakannya tidak mampu mengendalikan diri, kalau dia [mereka] puasa berarti batal, bukan?

‘TIGA’ apa semua umat muslim harus puasa? Bagaimana dengan orang sakit, anak-anak / bayi, ibu hamil / menyusui, dan perempuan yang sedang datang bulan serta orang yang kerja fisik berat seperti para buruh pembangunan, angkut panggul / gendong dan umat agama lain?

‘EMPAT’ pembuat Peraturan Daerah atau PerDa yang melarang jualan makanan di bulan puasa, saya rasa orang yang tidak tahu inti keimanan agama. Apakah itu puasa bila tak ada penjual makanan, bukankah itu berarti pemaksaan. Orang jadi tidak makan dan minum karena terPUAkSA bukannya PUASA?

‘LIMA’ ini yang terpenting: Jangan mengaku beragama jika hanya menjalankan kulitnya. Tampil berbusana muslim namun tindakannya jauh dari keislaman. Mengaku islam tetapi tindakan dan tutur sapanya melecehkan Allah [mengganggap Allah itu lumpuh hingga harus ditegakkan menyebut nama Allah namun dengan penuh emosi mata beringas, menganggap Allah tak bisa berbuat apa-apa hingga harus dibela dengan tindakan manusiawi menyakiti bahkan membunuh].

Hal seperti tersebut pada paragraf LIMA itulah yang ditakuti Gereja Katolik sehingga tidak membolehkan umat awam menjadi pembicara keagamaan yang dibayar umat. Mereka pasti sampai pada titik ‘TERJEBAK’ untuk mencari pengikut sebanyak-banyaknya  sehingga kecil hanya demi bayaran hingga besar demi kekuasaan. Para pastor yang diberi ijin pun harus melaporkan dan menyerahkan perolehannya kepada Uskup atasannya hingga tidak akan membelokkan ajaran agama.

Menurut Gereja Katolik puasa yang benar adalah

Mengurangi kuantias atau jumlah makan hingga sehari [24 jam] hanya boleh makan dan minum satu kali saja. Tidak ada batasan waktu maupun tempat hingga ketika ada undangan pesta tetap ikut makan dan minum namun ya seharian cukup sekali saja pada waktu pesta itu. Jadi tetap menghargai dan menghormati orang lain tanpa harus batal puasanya.

Mengurangi kualitas atau mutu makanan, jika biasa dengan lauk daging / telur saat puasa cukup dengan lauk tahu-tempe / kerupuk, jika biasa pakai lauk tahu-tempe / kerupuk maka saat puasa makan tanpa lauk. Namun bagi yang tidak mampu puasa dipersilakan pantang dengan meniadakan kegemaran sehari-hari seperti tidak merokok, tidak makan daging, tidak shopping [belanja barang tambahan], tidak makan yang mengandung garam dan sebagainya.

Sehingga bukan hanya menghemat namun juga mampu menurunkan inflasi namun karena umat Katolik di Indonesia hanya sedikit maka dampak penurunan harga kurang terasa. Andaikata cara berpuasa umat Muslim seperti cara berpuasa umat Katolik maka pasti terjadi penurunan harga yang drastis, tanda bahwa puasa itu berhasil yaitu tidak ada kenaikan harga bahan makanan bahkan penurunan harga.

Apa orang yang terjebak di gurun pasir tidak ada makanan dan minuman itu puasa? Bukankah itu terpaksa? Apa arti puasa bila memang tidak ada yang bisa untuk dimakan atau diminum? Itu baru secara fisik. Jika kita tetap puasa walau disekitar kita makanan dan minuman berlimpah ruah serta banyak orang yang tidak puasa, bila itu terjadi bukankah kita mampu berpuasa secara psikis ‘mampu mengendalikan diri’

Apa tidak menjadi istimewa bila kita berpuasa dengan ikhlas memberikan porsi makan kita untuk orang lain yang lebih memerlukan? Orang tua puasa memberikan satu-satunya sebungkus nasi sayur untuk anaknya saja sudah menyentuh hati semua orang, apalagi jika kita berikan jatah kita pada orang lain [yang bukan sanak keluarga] pastilah menyentuh hati Allah.

Rasakan nikmatnya berpuasa yang sebenarnya. Tetap menghormati orang atau umat lain yang tidak puasa. Tetap menghargai kebebasan penjual makanan menjajakan dagangannya. Tetap puasa walau tidak dihormati oleh yang tidak puasa. Tetap puasa walau tidak ada PerDa pelarangan penjualan makanan.

Tetap puasa bahkan kala orang tidak tahu atau tidak menyadari bahwa anda sedang berpuasa karena wajah anda tetap cerah ceria [tidak muram] serta semangat dalam kerja anda tetap seperti biasa [tidak lemas minta pengurangan waktu kerja] dan bahkan kinerja lebih tinggi dari waktu tidak puasa [jangan maunya tidur saja] mencari amalan yang lebih di bulan penuh berkat.

Jangan beralasan tidur itu menjauhkan dari pekerjaan jahat karena itu hanya berarti pengakuan anda adalah penjahat. Penjahat memang hanya baik terhadap keluarga dan teman serta saat ia tidur, tidak berbuat jahat.

Semoga saudara-saudari kaum muslim mampu berpuasa secara benar, bukan cuma tampak puasa tapi waktu saur atau buka pesta pora seperti orang yang belum makan berhari-hari bagai ungkapan anak pada iklan pizza: Wah, bulan [puasa] makan ENAK nih!

NB: Opini di atas adalah selingan. Terjadi ketika beberapa ibu [Muslimah dan Katolik] tengah belanja pada tukang sayur yang berhenti di sebelah rumah saya kemarin.

NB: Pendapat-pendapat lain selengkapnya klik: Opini

————————————————————————–

Opini 02 YESUS

02 Yesus disalibkan-dan-bangkit

Mengapa kamu [kita] pilih jadi pengikut Yesus?

JAWABAN PENDEK

Karena sebangsa dan setanah air dengan Yesus orang Kudus [dekat Jepara?].

JAWABAN PANJANG

Itu karena lebih baik ikut orang yang mau mengorbankan diri, daripada ikut orang lain harus berkorban macam-macam.

Sebagai manusia dengan sejuta satu permasalahan tentu tak ingin tambah masalah lagi. Kita jangan mau dibodohi mengikuti sesuatu namun kita harus korban ini itu untuk yang kita ikuti. Hanya manusia yang gila hormat saja yang mau begitu. Lihat di masa kini agar dapat penghargaan tertentu rela mengeluarkan dana yang jumlahnya tidak sedikit. Dulu di kantor saya jadi penentang utama sebuah acara pencapaian rekor tertentu [terkadang hal kurang berarti] karena harus membayar sejumlah uang [s/d Rp 50 juta]. Prinsip saya ketika itu sebuah rekor harus dihargai dengan tulus tanpa embel-embel harus bayar dulu. Walau kantor saya menurut namun tidak demikan di kantor lain.

Yesus tentu saja tak bisa disuap dengan hewan kurban atau seolah-olah berpuasa padahal hanya memindah jam makan celakanya lagi malah makan makanan yang lebih enak [biasa nasi sayur saat puasa malah tambah lauk, biasa lauk tempe / tahu ketika puasa harus lauk daging, biasa makan tanpa buah kala puasa malah harus tambah buah impor karena tak tumbuh di sini, biasa makan sehari sekali saat puasa malah minimal dua kali, dsb]. Negara saja dibikin pusing apalagi Yesus, setiap bulan puasa kok inflasi harga-harga bertambah mahal, apa puasa model begini diterima oleh Allah? Jika Yesus saja tak bisa disuap apalagi Allah.

HIKMAH KATOLIK

Menjadi pengikut Yesus itu sudah benar sebab tak ada orang bahkan nabi yang mau mengorbankan diri mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia dan bangkit dari mati untuk menyelamatkan dunia kecuali Yesus. Tak usah dihiraukan mereka yang tak mau menerima Yesus karena jangankan mereka orang biasa sekalipun bani Israel telah ribuan tahun menantikan kedatangan juru selamat Mesias namun ketika diberi malah disalibkan. Kita tak perlu membenci mereka, seperti teladan Yesus, “Ya Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak tahu dengan apa yang diperbuat.” Seandainya bani Israel bahkan kaum Muslim menerima Yesus atau Isa, mungkin penebusan Yesus tak akan terjadi dan tak ada agama Kristen maupun Katolik.

Namun bagi kita yang memilih jadi Katolik itu adalah tindakan yang paling benar.

Salam AMDG, Ad Maiorem Dei Gloriam!

NB: Pendapat-pendapat lain selengkapnya klik: Opini

————————————————————————–

Opini 01 PUASA

01 Puasa

Mengapa orang katolik tidak pernah berpuasa?

JAWABAN PENDEK

Karena tidak kuat puasa, boros kalau puasa seperti yang biasa.

JAWABAN PANJANG

Puasa orang katolik bukan memindah jam makan dan menambah waktu berdoa melainkan mengurangi kuantitas [jumlah] porsi makan dan menurunkan kualitas [mutu] menu makan serta meningkatkan kepedulian sosial terhadap sesama.

Ketika masa puasa katolik tiba yaitu pada masa prapaska, hanya ada dua hari wajib puasa yaitu di awal masa prapaska atau hari Rabu Abu dan di akhir masa prapaskah atau hari Jumat Agung dengan cara puasa seperti yang diterangkan di atas.

Jika sebelumnya sehari makan lebih dari dua kali maka pada hari tersebut hanya boleh makan dan minum satu kali saja per hari.

Biasa lauk telor / daging gantikan dengan tahu / tempe. Biasa lauk tahu / tempe gantikan dengan kerupuk atau tanpa lauk. Biasa pakai buah kala puasa tanpa buah, dst turunkan mutu.

Biasanya cuma berdoa waktu puasa menjadi tindakan yang disebut Aksi Puasa yang ditetapkan berbeda di setiap lingkungan hasil sarasehan yang dipedomani keuskupan. Jadi berpuasa jangan hanya memikirkan diri sendiri namun peduli pada sesama.

Walau puasa wajib hanya dua hari namun gereja mengarahkan pada hari lainnya dalam masa prapaska dengan puasa yang ditentukan sendiri atau keputusan bersama sekelompok umat, dengan harapan mereka mampu menjalani dengan baik. Selain puasa setiap hari Jumat di masa prapaska menjadi hari pantang yaitu tidak mengkonsumsi sesuatu yang menjadi kegemaran misal: rokok, daging, garam, shopping, dsb setiap orang boleh berbeda, ini pun juga boleh diperpanjang di hari lainnya.

HIKMAH KATOLIK

Orang katolik berpuasa bukan di bulan puasa tetapi pada masa prapaska. Puasa orang katolik adalah puasa yang bisa dijalani dengan baik maka caranya bebas dengan ketentuan sehari hanya boleh makan dan minum sekali. Jika tak kuat puasa dipersilahkan pantang yang penting bisa dijalani dengan baik dengan menurunkan jumlah dan mutu serta inflasi.

Tak ada gunanya puasa bila terjadi inflasi. Di pemukiman masyarakat katolik saat puasa seharusnya harga turun. Bila terjadi inflasi yang ditandai kenaikan harga pangan maka puasa itu gagal total.

Namun bagi kita yang memilih jadi Katolik itu adalah tindakan yang paling benar.

Salam AMDG, Ad Maiorem Dei Gloriam!

NB: Pendapat-pendapat lain selengkapnya klik: Opini

Kenangan Opini

00 Opini

KENANGAN OPINI

Tumbuh kembang iman katolik saya cukup unik karena saya hidup dalam keluarga muslim. Satu-satunya yang katolik hanyalah bibi saya, adik perempuan ayah yang jadi katolik melalui sekolah.

Bergaul dengan pemeluk agama lain membuat saya makin mengerti apa itu agama. Secara khusus saya sampaikan terimakasih saya pada Presiden RI ke 2 bapak Jendral Besar Soeharto yang telah menciptakan kerukunan umat beragama dengan baik sehingga kami bisa mendialogkan perbedaan agama tanpa rasa permusuhan.

Mencari kebenaran suatu agama, menurut saya, itu adalah hal yang sia-sia belaka. Percuma saja hanya buang-buang waktu karena pasti di setiap agama ada kebenaran sehingga gunakan saja kebenaran itu untuk berlomba-lomba berbuat kebaikan dan kebajikan. Tidak ada gunanya berseru sebagai agama yang menjunjung tinggi perdamaian dan cinta kasih namun di sisi lain menciptakan permusuhan dan menghilangkan nyawa orang dengan dalih mengaku sebagai pembela Allah. Allah butuh pembela?

Puncaknya pada tahun 1980-an ketika saya kuliah di Jogja. Mungkin karena terbawa suasana para mahasiswa [calon cerdik pandai] mudah menyampaikan pendapat tak mau menyimpan tanya dalam hati maka langsung diungkap. Dalam bersilang pendapat pun tidak menjadikan mereka berubah pindah agama namun berubah saling menghargai agama lain.

Perubahan yang ada justru memperkaya khasanah pengetahuan bahwa agama lain juga mewartakan kebenaran puncaknya mengkerucutkan pemahaman bahwa agama hanyalah sekedar sarana untuk menyembah Allah, terlebih di pulau Jawa [mungkin juga se Indonesia] semua tatanan maupun upacara menyembah Allah di agama apapun disebut sebagai sembahyang.

Maka Kenangan Opini yang saya posting mulai hari ini tidak untuk memecah belah umat beragama serta tidak untuk meninggikan atau merendahkan agama apapun. Namun hanya sekedar obrolan santai di luar Keluarga baik dengan tetangga maupun dengan teman, siapapun itu tidak membedakan suku, adat, ras, atau agamanya.

Seperti ungkapan, “Kebenaran sejati hanyalah milik Allah semata.” adalah dicetuskan oleh teman-teman muslim namun hingga kini tetap saya pakai membawa diri. Tetapi bila dalam Kenangan Opini ini lebih cenderung bernuansa Kriten dan Katolik itu karena saya orang katolik yang tentu saja berperilaku dan bertutur melindungi diri, melindungi iman Kristen Katolik saya.

Sejak kala masa kuliah itulah saya menemukan rumusan untuk memberikan Jawaban Pendek [jika penanya dangkal keimanan, bisanya ya berhenti sampai di sini saja] dulu sebelum Jawaban Panjang [hanya bagi penanya yang butuh penjelasan] yang akan saya muat secara acak sesuai yang saya ingat, di bawah ini. Karena saya mulai mengunggah tulisan ini pada bulan puasa [Ramadhan] maka saya mulai dengan topik tentang puasa.

Semoga mampu menginspirasi umat agama apapun untuk mau berdialog penuh persaudaraan, dan bagi umat Katolik Roma semakin mempertebal iman Kristiani kita sebagai pengikut Kristus.

Salam damai sejahtera. Ad Maioren Dei Gloriam ‘AMDG‘ untuk keutamaan dan kemuliaan Tuhan!

Halo Umat Katolik Indonesia !

Selamat datang, berkat Tuhan!

Anda sedang mengunjungi site-blog yang menawarkan aneka Doa dan Ibadat untuk Umat Katolik Awam. Tentusaja anda tidak harus menjalani semua doa dan ibadat yang kami tawarkan, namun jika mau tentu tidak dilarang. Dengan menjalani baik rutin atau pun kadangkala, anda telah bergabung dalam Persekutuan Doa Mandiri (PeDoMan). Semoga mampu menjadi perekat hubungan kita dengan Tuhan dan sesama.

Terimakasih, berkat Tuhan!